Metode Awal
Usaha untuk menciptakan tulisan bagi orang tunanetra telah dimulai sekurang-kurangnya 16 abad yang lalu, ketika seorang cendekiawan tunanetra Jepang pada abad ke-4 mengukir huruf-huruf pada kayu dan mendirikan sebbuah perpustakaan yang cukup besar untuk menghimpun karya-karyanya itu. Pada tahun 1676, seorang Tunanetra Katholik di Roma, Italia, bernama Francesco Terzi menciptakan sejenis "abjad tali". Dia membentuk huruf-huruf dari berbagai variassi simpul tali dan menggunakna abjad talinya itu untuk mentranskripsikan abjad kitab injil. Seorang musisi wanita tunanetra dari Wina, Maria Theresa von paradis, (lahir tahun 1741), belajar membaca dengan alat bantu berupa paku-paku yang ditancapkan pada sebuah bantalan untuk membentuk huruf-huruf. Dengan cara ini dia berhasil belajar membaca partitur musik (Andersen, 2000).
Hingga awal abad ke- 19, orang masih memusatkan usaha membantu Tunanetra belajar membaca dan mennulis itu dengan memperbesar huruf latin atau romawi dengan menggunakan berbagai macam cara dan bahan seperti tali-temali, potongan-potongan logam, kayu, kulit, lilin atau kertas, tetapi hasilnya masih jauh dari memuaskan. Kesemua cara inimemiliki ciri yang sama yaitu memerlukan bahan yang sulit dibuat atau sukar dimanipulasi sehingga tidak cocok sebagai media komunikasi. Misalnya orang tidak mungkin membawa banyak balok kayu untuk memungkinkannya berkomunikasi secara tertulis dengan orang lain secara efisien. Kriteria standar yang sangat penting bagi suatu bentuk teknologi komunikasi adalah mudah diproduksi, permanen, mudah di fahami dan mudah dibawa-bawa (portable).......
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !