Slide Informasi

Tampilkan postingan dengan label tunanetra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tunanetra. Tampilkan semua postingan

Keterbatasan dan kebutuhan anak tunanetra dalam pembelajaran

Selasa, 19 Agustus 2014


Pengertian Anak tunanetra
Anak berkebutuhan khusus banyak sekali salah satunya adalah tunanetra yaitu anak dengan gangguan penglihatan, jadi anak tunanetra bukan hanya anak yang mengalami kebutaan tapi juga anak yang mengalami keterbatasan dalam penglihatannya seperti juling, low vision/ ketajaman penglihatan yang cukup kurang dll.
Klasifikasi Ketajaman Penglihatan menurut WHO
Visual Impairment
1. 6/6 hingga 6/18 = Normal vision (penglihatan normal).
2. <6/18 hingga >3/60 (kurang dari 6/18 tetapi lebih baik atau sama dengan 3/60) = Low vision (kurang awas).
3. <3/60 = Blind (buta).
Keterbatasan anak yang mengalami hambatan penglihatan yaitu :
Keterbatasan dalam konsep dan pengalaman baru. konsep disini maksudnya adalah anak akan mengalami kesulitan dalam memahami akan sesuatu, terutama sesuatu yang baru. Maka anak perlu diarahkan secara verbalis/ kata-kata secara lisan atau melalui sentuhan namun tidak semuanya harus dilakukan secara sentuhan karena ada beberapa hal yang tidak dapat disentuh karena bisa berbahaya misalkan api.
Keterbatasan dalam berinteraksi dengan lingkungan, hal ini cukup jelas bahwa dengan berkurangnya penglihatan maka menyulitkan kita untuk melakukan pemahaman terhadap terhadap sesuatu yang bersifat visual.
Keterbatasan dalam orientasi mobilitas, dengan adanya hambatan dalam visual akan menyulitkan kita dalam pergerakan pengenalan tempat di sekitar kita.
Yang dibutuhkan anak tunanetra dalam pembelajaran yaitu :
- Pengalaman yang konkrit
- Pengalaman memadukan antara teori dan praktik
- Berbuat dan bekerja dalam belajar (belajar secara praktik langsung)
Media baca Tunanetra
- Tulisan standar (standard print)
- Tulisan yang diperbesar (enlarge print)
- Media Braille
- Media dengar (auditory learning)

Sejarah Awal Pengembangan Sistem Tulisan bagi Tunanetra Part 1

Sabtu, 28 Desember 2013


Metode Awal
Usaha untuk menciptakan tulisan bagi orang tunanetra telah dimulai sekurang-kurangnya 16 abad yang lalu, ketika seorang cendekiawan tunanetra Jepang pada abad ke-4 mengukir huruf-huruf pada kayu dan mendirikan sebbuah perpustakaan yang cukup besar untuk menghimpun karya-karyanya itu. Pada tahun 1676, seorang Tunanetra Katholik di Roma, Italia, bernama Francesco Terzi menciptakan sejenis "abjad tali". Dia membentuk huruf-huruf dari berbagai variassi simpul tali dan menggunakna abjad talinya itu untuk mentranskripsikan abjad kitab injil. Seorang musisi wanita tunanetra dari Wina, Maria Theresa von paradis, (lahir tahun 1741), belajar membaca dengan alat bantu berupa paku-paku yang ditancapkan pada sebuah bantalan untuk membentuk huruf-huruf. Dengan cara ini dia berhasil belajar membaca partitur musik (Andersen, 2000).
Hingga awal abad ke- 19, orang masih memusatkan usaha membantu Tunanetra belajar membaca dan mennulis itu dengan memperbesar huruf latin atau romawi dengan menggunakan berbagai macam cara dan bahan seperti tali-temali, potongan-potongan logam, kayu, kulit, lilin atau kertas, tetapi hasilnya masih jauh dari memuaskan. Kesemua cara inimemiliki ciri yang sama yaitu memerlukan bahan yang sulit dibuat atau sukar dimanipulasi sehingga tidak cocok sebagai media komunikasi. Misalnya orang tidak mungkin membawa banyak balok kayu untuk memungkinkannya berkomunikasi secara tertulis dengan orang lain secara efisien. Kriteria standar yang sangat penting bagi suatu bentuk teknologi komunikasi adalah mudah diproduksi, permanen, mudah di fahami dan mudah dibawa-bawa (portable)....... 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. DennieAja - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger