Slide Informasi
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Nasihat Gratis
Suatu hari Nasrudin pergi ke rumah hartawan untuk mencari dana.
"Bilang sama tuanmu", kata Nasrudin kepada penjaga pintu gerbang, "Mullah Nasrudin datang, mau minta uang".
Sang penjaga masuk dan kemudian keluar lagi.
"Aku khawatir, jangan-jangan, tuanku sedang pergi", katanya
"Ke sini. Ini ada pesan untuk tuanmu", kata Nasrudin. "Meskipun ia belum memberi sumbangan, tapi tidak apa-apa, ini nasihat gratis buat tuanmu. Lain kali, kalau tuanmu pergi, jangan sampai ia meninggalkan wajahnya di jendela. Bisa-bisa dicuri orang nantinya".
"Bilang sama tuanmu", kata Nasrudin kepada penjaga pintu gerbang, "Mullah Nasrudin datang, mau minta uang".
Sang penjaga masuk dan kemudian keluar lagi.
"Aku khawatir, jangan-jangan, tuanku sedang pergi", katanya
"Ke sini. Ini ada pesan untuk tuanmu", kata Nasrudin. "Meskipun ia belum memberi sumbangan, tapi tidak apa-apa, ini nasihat gratis buat tuanmu. Lain kali, kalau tuanmu pergi, jangan sampai ia meninggalkan wajahnya di jendela. Bisa-bisa dicuri orang nantinya".
Mantra Aneh
Suatu hari Abdullah bin Jafar menjenguk Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang sedang menderita sakit.
"Engkau sakit apa, ya Amirul Mukminin?"
"Sepertinya encok dikaki,", jawab Khalifah
"Saya punya pelayan bernama Budaih. Ia punya keahlian menyuwuk berbagai penyakit yang diwarisi dari ibunya yang keturunan bangsa Barbar", kata Abdullah bin Jafar
"Kalau begitu panggil dia", kata Khalifah seraya menyuruh seorang pelayan untuk menjemput Budaih.
Begitu kurir pergi, Abdullah merasa menyesal karena telah berbohong kepada Khalifah.
Tak lama kemudian Budaih muncul.
"Katanya kamu bisa menyuwuk berbagai penyakit Budaih""tanya Khalifah.
"Benar, Amirul Mukminin" jawab Budaih
Mulailah Budaih mengelus-elus lutut Khalifah dan memijit-mijit betisnya sambil mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra.
"Sekarang berdirilah, Amirul Mukminin. Insya Allah sudah sembuh".
Benar. Begitu berdiri Khalifah tidak merasa sakit. Ia bersyukur sekali. "Alhamdulillah, kakiku sudah terasa ringan,"katanya.
Selanjutnya Khalifah memanggil seorang sekretarisnya untuk mencatat mantra yang dibaca oleh Budaih. Sebab ia khawatir kalau-kalau penyakit encoknya kambuh lagi.
"Amirul Mukminin, kata mantan isteriku, untuk menulis mantra yang aku punya harus ada imbalannya", kata Budaih
"Baiklah, aku beri kamu hadiah sebesar 4000 dirham", kata Khalifah.
Ketika Budaih sudah menerima uang, ia berkata: "Kata mantan isteriku pula, uang ini harus ada yang mengantar ke rumahku".
Sang Khalifah segera menyuruh untuk mengantarkan uang itu ke rumah Budaih. Tiba-tiba Budaih melihat sekretaris Khalifah sudah menulis tulisan "Bismillahirrahmanirrahim" sebagai pembukanya.
"Mantra ini tidak didahului bacaan "Bismillahirrahmanirrahim", kata Budaih
"Ah, kamu ini Budaih! Mana ada mantra yang tidak didahului bacaan"Bismillahirrahmanirrahim"? tanya Khalifah.
"Memang begitu, Amirul Mukminin. Tadi saya membaca bait-bait syair pendek tentang asmara "
Ketahuilah,
Tiba-tiba Laila Amirayah menjauhiku
Ia dendam karena dosa orang lain.
"Ah, kamu, Budaih. Lalu apa lagi?"
"Hanya itu Amirul Mukminin"
Sang Khalifah Abdul Malik tertawa terpingkal-pingkal mendengar itu sambil memeriksa sepasang kakinya.
Kisah Pojokan
Lama sudah saya menjadi pegawai honorer di salah satu SD Negeri di Banjarbaru. Ratusan anak dengan berbagai karakter telah saya temui beberapa tahun ini, namun ada satu anak yang menarik perhatian saya, sebut saja namanya SELVIA. Anak yang penuh keluguan namun dianggap para pendidik sebagai anak yang bodoh atau kurang pintar.
Apalagi ditambah ilmu yang saya pelajari di Pendidikan Luar Biasa, membuat saya bersimpati terhadap anak yang berkekurangan atau khusus. Anak tersebut tidak bisa membaca sampai sekarang dan terus beberapa kali tidak naik kelas ketika berada di kelas 1 dan sekarang dia duduk di kelas 2 dan tentu saja akibat dari kekurangannya tersebut dia tidak naik tingkat lagi tahun ini.
Saya pikir apakah para pendidik ini tidak menyadari bahwa setiap manusia itu berbeda karakteristiknya, ada yang lemah dalam intelektualnya namun hebat dalam keterampilannya tapi ada juga yang lebih baik dari itu. Sebagai seorang pendidik seharusnya bisa melihat potensi anak itu dimana? namun nyatanya mereka hanya memandang kekurangannya saja. "Biar ja saikung haja juwa, nang lainnya bagus za nilainya" atau tidak memenuhi kkm jadi kada dinaikkan bahkan ada yang bilang "menggawi tugas latihan lambat banar bu kepsek ae", pendidik seperti apa yang berpikiran seperti itu. Kaya bubuhan pian nang tuha tu kada lambat bepikir mun kuliah, bahkan nyontek juwa..."sama haza, podo wae, same mawon""
Hasil ulangan merupakan tolak ukur kepintaran anak yang diambil semua guru, nggak bisa begitu bu guru. Anak ini perlu pertolongan kita, bukan malah makin memojokkannya! Kalau dia tidak bisa malah dimarahi, hal ini makin membuat dia menjadi down dan makin membuat pikirannya tidak berkembang.
Para Pendidik seharusnya terbuka pikirannya dan jangan hanya berpatok pada angka-angka saja, ada kemajuan yang dibuat anak walau hanya sedikit itu merupakan tanda bahwa ia bisa berubah dan kita harus mampu berada dibelakang anak tersebut untuk mendorongnya maju dan berada disampingnya ketika anak mulai merasa jenuh serta memberi mereka kasih sayang. Jangan sekali-sekali membentak mereka bu, karena mereka special....Because they are Special Children.
Salam hangat, salam spesial dari saya....
Gagasan Cemerlang
Suatu hari Si Nasrudin maminta bininya mamasak halwa, masakan dari daging nang dibari bumbu nang barasa manis. Bininya mamasak makanan nagitu dalam jumlah ganal wan Nasrudin hampir haja mamakan habis samuaan.
Malamnya, Pas bubuhannya badua sudah handak taguring, Nasrudin manggandah-gandah awak bininya.
"Eh, unda ada pamikiran nang bagus."
"Napang teh?"
"Bawa dahulu sisa halwa nang masih ada tadi. Hanyar pas ngitu unda padahi pamikiran nang ada di kapalaku."
Bini Nasrudin langsung babangun, pastu maambil sisa halwa nang langsung dimakan Sang Mullah. "Napa garang idinya"jer bininya batakun. "ulun kada kawa guring nah sabalum pian bakisah".
"Idinya tu"jer Nasrudin. "Jangan sekali-sekali guring sabalum mahabisakan sabarataan halwa nang diulah hari itu juwa".
Kebijaksanaan dari Toko Sepatu
Nasrudin diundang menghadiri sebuah pesta perkawinan. Sebelumnya, di rumah orang yang mengundang itu, ia pernah kehilangan sendal. Karenanya sekarang ia tidak lagi meningggalkan sepatunya di dekat pintu masuk, tapi menyimpannya di balik jubahnya.
"Buku apa itu di dalam sakumu?" tanya tuan rumah kepada Nasrudin.
Nasrudin dalam pikirnya "untung aku dikenal sebagai kutu buku". Maka dengan lantang ia berkata "Tonjolan yang engkau lihat ini adalah Kebijaksanaan."
"Menarik sekali! Dari toko buku mana engkau dapatkan itu?"
"Yang jelas aku mendapatkannya dari toko sepatu".